Cara Membuat blog, artikel,tips dan trik panduan blogging artikel unik.

Language Partner



Namaku Lily. Usia 23 tahun. Kuliahku di Amerika barusan selesai, dan aku memutuskan untuk melanjutkan belajar Mandarin ke negeri Cina. Lalu mendaftarkan diri untuk sekolah di kota S, di salah satu province di Cina. Beruntung aku orangnya cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan orang-orangnya.

Selang beberapa bulan aku sudah kenal banyak teman dari macam-macam negara, tapi yang terbanyak ya teman-teman sesama dari Indonesia juga. Bahkan, (bukannya ge-er), banyak yang teman cowok yang tertarik dan tergiur dengan bentuk lekuk badanku, dengan tinggi 167 cm, ukuran dada 36A, pinggang yang lumayan ramping, yah pokoknya kayak huruf S kalo dilihat dari samping, bagian dada dan pantat saja yang menonjol. Tapi sayang, aku tetap bersikeras pasang tampang 'cool' saja di depan mereka. Ceritanya, jaga gengsi lah.

Suatu hari kuputuskan untuk mencari seorang language partner, yang berarti mestilah orang lokalnya, yang bakal mengajariku Mandarin, dan sebagai gantinya aku ngajarin dia English. Maka, kemudian kupasang iklan language partner di beberapa tempat di sekolah ini.

Selang 4 hari, telepon di kamar asrama sekolah tempatku tinggal, berdering keras. Suara seorang cowok, rupanya.
"May I speak to Lily, please?" suara di seberang sana bertanya.
"Yes, it's me, Lily, who's speaking?" aku balas bertanya.
Singkat cerita, rupanya dia orang pertama yang membaca iklanku. Hm, menurutku sih, English-nya sudah ok dan tidak berkesan cadel, seperti umumnya English orang lokal. Lalu kututup telepon, setelah membuat janji kapan kami akan bertemu dan di mana.

Kemeja kotak-kotak dan jeans biru, gumamku dalam hati. Kumasuki salah satu cafe yang masih di lingkungan sekolah. Dia mengambil tempat yang agak ke pojok, dan duduk membelakangiku. Baru mau kutegur, tiba-tiba dia menengok ke arahku.
"Lho, Denny, sendirian aja? Gue kirain language partner gue, abis dia bilang juga pake kemeja kotak-kotak dan jeans," jelasku kepadanya.
"Hehehe, emang gue language partner elo kok, Ly.." katanya mengejutkanku, lalu lanjutnya, "Sorry ya, gue bukannya mo ngeboongin elo, nih."
Aku masih belum bisa mengerti mengapa dia begitu isengnya.

Akhirnya Denny menjelaskanku, kalau dia sebenarnya selama beberapa bulan ini menyukaiku, tapi tidak tahu bagaimana cara deketinnya, padahal dia sudah tahu banyak tentangku, sampai nomor telepon dan asrama tempatku tinggal. So, rupanya dia secara kebetulan melihat iklan yang kupasang, dan menjadikan itu sebagai cara yang tepat buat menemuiku.

Sebetulnya sih aku juga punya perasaan khusus ke Denny, hanya sebagai cewek yang selalu menjaga reputasi, aku kelihatan selalu cool-cool saja di depannya. Yah, pokoknya sejak pertemuan itu, kami jadi sering pergi-pergi, makan, nonton berdua, atau sekedar ngobrol, dan tidak lama kemudian kami jadian. Kami jadi sering saling curhat, dan kalau ngomong yang tadinya 'gue elo', jadi 'aku kamu'.

Dia pernah berterus terang kepadaku, kalau dia sudah pernah berhubungan sex dengan mantan pacarnya dulu, di Bandung. Tapi dia berusaha tidak mau mengulanginya lagi sekarang denganku, pacarnya yang baru.
"Aku cinta sekali sama kamu, Ly.. dan karena itu aku nggak pengen nodain kamu, seperti yang pernah kuperbuat dengan yang dulu." dengan penuh perasaan Denny mengutarakan itu kepadaku.
Tapi tidak tahu kenapa, aku kurang suka mendengar kata-katanya, sepertinya gengsiku mulai keluar. Entah kenapa, suatu hari aku merasa horny. Kali ini entah ke mana, rasa gengsiku hilang begitu saja, mungkin penasaran dengan kata-kata Denny yang kemarin, yang tidak mau menyetubuhiku. Kutetelpon Denny, untuk segera datang ke kamarku, dengan alasan lagi merasa tidak enak badan.

Tidak berapa lama kemudian, Denny yang asramanya tidak begitu jauh dari asramaku mengetuk pintu pelan.
"Yang..?"
"Ya, masuk aja Yang, pintunya nggak dikunci."
Sengaja waktu itu aku hanya memakai tanktop putih dan CD yang putih juga. Begitu dia melihatku, matanya langsung melotot melihatku yang berpakaian serperti itu saja, sedang bersender telentang di pinggir ranjang, sambil menonton TV.
"Kamu katanya sakit, kok malah cuman pake ini, Yang?"
Kubuat senyum semanis mungkin, tidak menjawabnya. Kutahu dia hanya berpura-pura alim. Lalu kudorong pundaknya sampai dia terduduk di pinggir ranjang. Lalu aku duduk di atas pahanya, berhadapan dengannya.

Sementara dia masih gelagapan, kupeluk dia erat-erat, dadaku menyentuh dadanya, saling menempel. Lalu kubisikkan Denny dengan mesra, kalau aku lagi kangen berat sama dia. Lalu kedua tanganku memeluk lehernya, kuciumi leher dan telinganya, dan kujilat-jilati telinganya sampai dia tertawa kegelian. Aku tahu, sesuatu di balik celananya sudah tegak berdiri dari tadi, dan aku dapat merasakan sentuhannya di pantatku.

"Yang, aku belum pernah melihatmu dalam keadaan seperti ini, kamu betul-betul menggairahkan, Yang, sexy banget..!" katanya sambil mengusapi pipiku dan kemudian mengecupku mesra dan balas memelukku.
Kubalas kecupannya dengan mesra dan hangat. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong. Kugigiti bibirnya, dan dia balas mengulum bibirku, oohh, hangatnya betul-betul tidak terbayangkan. Musim dingin yang bikin orang menggigil, tiba-tiba tidak ada apa-apanya bagi kami berdua yang mulai naik birahi.

Lalu, kunaikkan pantatku, dan dengan setengah berdiri, kubusungkan dadaku yang penuh berisi, dan putih menggairahkan itu ke depan wajahnya. Dapat kubayangkan nafsunya, dia melihat pemandangan di depan matanya, sepasang gunung kembarku yang sejak tadi sudah mengintip di balik tanktop tipis, tanpa bra.
"Kamu mau nyusu ini kan, Sayang? Nyusu yang puas, Yang, sampai kamu kenyang..!" bisikku dengan suara serak, penuh nafsu.

Seperti yang telah kuduga, Denny telah lupa janjinya kepadaku untuk tidak menyentuhku. Dengan cepat, tangan kanannya sudah naik ke balik tanktop-ku, melepas tanktopku dan melemparnya entah ke mana. Diremas-remas dan diciumi payudaraku berganti-ganti dengan buasnya, sementara tangan kirinya mulai masuk ke dalam CD-ku, dan memain-mainkan vaginaku yang sudah basah, lalu memeloroti CD-ku. Dia begitu menikmati sedotan-sedotan payudaraku yang kenyal, dengan puting berwarna coklat muda yang lumayan besar dan sudah mengeras.

Pertempuran sudah dimulai. Pertama-tama aku jongkok di depan Denny, melepas kaosnya, dan membuka kancing jeans dan zipnya, dan kuturunkan jeans, dan CD-nya. Ooh, begitu besarnya batang ini, dan baru kali ini kulihat secara live. Dengan sedikit pengetahuan dari teman dan film, aku mulai menggenggam penisnya yang tegaknya sudah melebihi mistar. Denny melenguh, rupanya keenakan dia. Melihatnya begitu aku semakin bernafsu, kujilat-jilati penisnya, kugigit-gigit dan sedot-sedot. Denny mengerang, mencengkeram pundakku, lalu meremas kuat-kuat payudaraku.

Kali ini kucondongkan dadaku, kuletakkan penisnya di antara payudaraku, dan aku mulai menggoyang-goyangkan dan menjepit-jepit penisnya dengan dua payudaraku. Lalu, tubuhnya yang tinggi atletis itu berdiri, menggendongku, mendorongku ke ranjang, dan menindihku. Wah, macan yang sengaja kulepas dari kandangnya itu sudah tidak terkendali untuk segera menerkamku. Dicium dan dijilatinya aku mulai dari wajahku sampai ujung kakiku. Kulebarkan kedua pahaku, dan mampirlah lidahnya ke vaginaku, dan menjilat-jilat semua yang ada di dalamnya, sambil dua tangannya terus meremas-remas payudaraku, dan memainkan puting susuku. Oh, dia begitu berpengalaman, kataku dalam hati. Goyangan lidahnya di vaginaku sanggup membuatku mendesah-desah hebat, dan membuat nafsuku naik sampai ke ubun-ubun.

Aku tidak mau kalah. Kusuruh dia tengkurap, lalu kutindih dia dengan tubuhku. Kubuat dia mendesah-desah dengan menggesek-gesekkan kedua payudaraku yang menempel di punggungnya. Kubuat seperti sedang memijatinya tapi dengan payudaraku sambil tanganku yang kiri meraba-raba dadanya yang bidang, menarik-narik putingnya, dan tangan kananku turun menyentuh penisnya yang sudah betul-betul mengeras. Kuremas-remas penisnya dengan lembut sambil kadang kutarik-tarik. Denny mengerang keenakan sambil tangannya meremasi kedua pantatku dari bawah.

Kuminta dia membalikkan tubuhnya, dan mulai kuraba kembali penisnya. Dengan leluasanya, kujilat-jilat penisnya, dan kusedot-sedot sekuat-kuatnya. Denny begitu menikmatinya, sambil terus mengerang, dia membelai-belai rambutku dan meremas-remas payudaraku lagi. Kupermainkan penisnya di dalam mulutku, kusodok-sodok dengan lidahku, dan memutar-mutari penisnya. Belum selesai aku memuaskan dirinya, Denny dengan tiba-tiba kembali menindihku. Rupanya, dia sudah tidak sabar mau menancapkan penisnya ke vaginaku. Lalu, kami ganti style.

Denny mendorongku dan merapatkan punggungku ke dinding, diremas-remasnya pantatku dengan tangan kirinya. Denny yang juga berdiri berhadapan denganku, tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi kaki kananku, sambil tetap dipegangnya terus. Tidak berapa lama pelurunya mulai ditembakkan ke lubang vaginaku.
"Ahh.., shh..!" rintihku setengah tertahan, takut kedengaran kamar sebelah.
Vaginaku yang belum pernah tersentuh 'barang' cowok terasa begitu sakit dan nyut-nyutan. Denny yang sabar menenangkanku, dan dia berhenti sebentar, sampai aku siap kembali.

"Akhh.. owww.., udah.. Yangg..!" akhirnya penis Denny dengan penuh perjuangan bisa masuk sepenuhnya ke dalam vaginaku.
Aku yang baru kali ini 'main', begitu takjubnya melihat itu semua, tidak menyangka vaginaku yang begitu sempitnya, bisa-bisanya dimasukkin 'barang' yang cukup panjang dan besar, yang kira-kira ada lah 18 cm.

Pelan-pelan, masih dengan penis yang 'parkir' sepenuhnya di vaginaku, kami ganti posisi lagi. Denny duduk di atas pinggulku, sementara aku berbaring di bawah. Kunaikkan pinggulku dengan bertumpu di kedua siku. Denny membantu mengangkat pinggulku, dan terus menyodok-nyodoki vaginaku dengan ganas. Begitu ganasnya, sampai-sampai ranjangku berderit-derit, ditambah erangan dan desahan kami berdua. Aku begitu menikmatinya sambil meremas-remas dan menarik-narik seprei yang sudah berantakan sana-sini. Oh ya, sebelum 'main', aku sempat memperbesar volume TV untuk menetralisir 'permainan' kami yang bertambah seru.

"Aghh.. shh.., Yangg, aku mau keluar..!"
Akhirnya Denny orgasme dan memuntahkan spermanya ke atas perutku.
"Thanks, Sayang.." kata Denny sambil mengecupi keningku.
"Yayang belum keluar..?"
"Ampir kok, Yang..," bisikku mesra.

Lalu kuraba perutku yang terkena muntahan spermanya Denny. Tanganku yang kena muntahannya kupeperkan ke dadanya. Kujilati dan kuhisapi dada dan puting Denny yang berubah menjadi rasa sperma yang nikmat. Melihat tingkahku itu, dia kembali tegang dan melancarkan serangan lagi. Akhirnya barulah aku orgasme untuk pertama kali, sedangkan Denny kedua kalinya. Dijilat-jilatinya dengan amat rakus cairan-cairanku yang keluar dengan deras, sampai bersih. Sampai akhirnya kami bebaring telentang terengah-engah, dengan keringat mengucur yang membanjiri tubuh kami berdua.

Kami berbaring saling berpelukan erat. Sambil penisnya masih tetap 'menginap' di lubang vaginaku. Kami saling memandang mesra dan sebentar-sebentar saling berciuman.
"Yayang mainnya hebat lho, Denny sampe nggak nyangka kalo Yayangku yang kalem-kalem gini ternyata bisa nakal juga..," katanya sambil tersenyum nakal.
"Ih, ngeledek kamu ya..," kataku sambil siap mencubiti lengannya.
Dengan cepat tanganku dipeganginya, dan 'menabrakkan' ciuman ke bibirku, sambil kemudian memulai lagi the next round, again and again, dalam berbagai gaya.

Yah, begitulah teman-temanku, meskipun aku tidak pernah bermain-main dengan yang namanya sex, tapi aku kan juga pernah nonton film-film yang berbau sex. Dan secara otomatis, action-action di film dapat dengan mudahnya terputar kembali di otakku ini. Sewaktu kami bergulat untuk pertama kalinya. Ah, semuanya karena gara-gara Language Partner, kami jadi partner-an, untuk ber-'body language', ha ha..

Akhirnya, sampai aku menceritakan pengalamanku ini, semenjak permainan perdana itu, kami selalu merasa ketagihan, dan terus mengulanginya lagi dan lagi di setiap pertemuan kencan kami, entah di kamar asramaku atau Denny, dan 'main' semalam suntuk. Oh ya, kami punya kebiasaan khusus setelah ngesex, yaitu tetap membiarkan 'burung' Denny bersarang di lubang vaginaku selama kami tidur berpelukan. Dapat kalian bayangkan betapa romantisnya kami?

Teman-teman, kami tetap memutuskan untuk tidak tinggal bersama kok, karena memangnya peraturan asrama yang tidak mengijinkan untuk tinggal bersama, cewek dan cowok. Dan yang kedua, kami tidak ingin membuat gempar orang-orang di sekeliling kami, terutama yang suka bergosip, karena kalau sampai-sampai kedua orangtuaku di Jakarta tahu, bisa berabe kan tuh..!

TAMAT

HOQBET.com - agen bola terpercaya, Menyediakan layanan pembuatan akun sbobet bola dan casino secara online dan mudah. Pembuatan Akun SBOBET bola dan Pembuatan akun SBOBET casino, secara rahasia dan terpercaya.
Tag : Umum
0 Komentar untuk "Language Partner"

Back To Top